Presepsi.com – Samudra Pasifik, Fenomena Super El Nino berkekuatan besar diperkirakan sedang terbentuk di kawasan tropis Samudra Pasifik. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan fenomena ini mencapai puncak intensitasnya pada akhir 2026 dan dampaknya berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Peluang bertahan fenomena ini hingga Februari 2027 diperkirakan mendekati 100 persen. Catatan tersebut menjadi tingkat kepastian paling tegas dalam sejarah pembaruan iklim yang dirilis oleh WMO.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyampaikan bahwa fenomena pemanasan suhu permukaan laut ini telah menempatkan bumi pada kondisi wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Suhu permukaan laut meningkat, suhu terus naik, dan dunia berada dalam zona bahaya cuaca ekstrem. Perlombaan saat ini adalah antara risiko yang meningkat dan komitmen kita untuk mengambil tindakan iklim serta melindungi masyarakat," kata Guterres.

Anomali suhu di kawasan tengah dan timur Pasifik khatulistiwa tercatat telah mencapai kisaran 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius di atas normal pada pertengahan 2026. Sementara itu, suhu di bawah permukaan laut di sejumlah titik mencatatkan kenaikan lebih dari 8 derajat Celsius di atas rata-rata.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menekankan pentingnya respons global mengingat besarnya potensi gangguan terhadap sektor sosial dan ekonomi masyarakat di seluruh dunia.

"Fenomena El Nino yang luar biasa ini menuntut persiapan dan respons yang luar biasa pula. Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan," tegas Saulo.

Untuk periode September–November 2026, WMO memproyeksikan lonjakan suhu di atas rata-rata di hampir seluruh daratan global. Fenomena ini berpotensi memicu ancaman ganda, mulai dari kekeringan berkepanjangan hingga banjir akibat perubahan sirkulasi atmosfer.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perkembangan El Nino memicu kekhawatiran terhadap perubahan pola curah hujan. Meski demikian, besarnya dampak di tiap wilayah masih dipengaruhi oleh fenomena dinamika laut lain.

Salah satunya adalah Indian Ocean Dipole (IOD) yang diproyeksikan berada pada fase positif dengan nilai rata-rata musiman sekitar 0,9 derajat Celsius pada periode September–November 2026. Kondisi IOD positif dapat berinteraksi dengan El Nino dalam memengaruhi besaran dampak iklim setempat.

Mengingat tingginya potensi cuaca ekstrem, WMO mengimbau seluruh pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem peringatan dini serta mengoptimalkan kesiapsiagaan di sektor pertanian, kesehatan, energi, dan penanggulangan bencana.

(Sumbe: National Geographic Indonesia)