Meskipun kenaikan harga terbilang cukup tinggi, daya beli masyarakat terhadap komoditas buah segar justru terpantau mengalami peningkatan dari biasanya.
Penjual buah di Lapak Umaizah, desa Purworejo, Cindy Biki membenarkan adanya kenaikan harga kedua komoditas tersebut di pasaran saat ditemui di lapaknya.
"Memang benar harga semangka dan pepaya naik, tetapi permintaan pasar dan daya beli masyarakat naik. Mungkin karena cuaca panas yang panjang sehingga masyarakat banyak mengonsumsi buah segar," ujar Cindy.
Berdasarkan data fakta di lapangan, harga semangka yang sebelumnya dijual Rp10.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp17.000 per kilogram.
Sementara itu, harga buah pepaya yang semula berada di kisaran Rp8.000 per kilogram turut mengalami kenaikan menjadi Rp10.000 per kilogram.
Kondisi cuaca terik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir menjadi alasan utama warga tetap berburu buah segar demi menjaga kondisi fisik mereka.
Salah seorang pembeli, Syakinah, mengaku sengaja membeli buah-buahan segar untuk menjaga kesehatan tubuh di tengah terik matahari.
"Yah benar, cuaca panas beberapa bulan ini mengharuskan untuk mengonsumsi buah-buah segar agar daya tahan tubuh dan kesehatan tetap terjaga," tutur Syakinah.
Merespons lonjakan harga komoditas pertanian akibat kemarau panjang tersebut, Pemerintah Bolaang Mongondow Timur melalui Dinas Pertanian dan Perikanan serta Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disdagkop) langsung menyiapkan langkah antisipasi terpadu.
Langkah strategis tersebut berfokus pada pemantauan pasar secara rutin, intervensi pasar murah, penguatan sistem distribusi, hingga optimalisasi sarana pengairan pada lahan hortikultura untuk meredam dampak kemarau panjang.










Komentar 0