Presepsi.com, SulutGo - Fenomena cahaya tak biasa di langit dilaporkan terlihat dari wilayah Sulawesi Utara hingga Gorontalo pada dini hari Sabtu, 12 September 2026.

Kemunculan benda bercahaya tersebut menarik perhatian karena terjadi pada waktu yang berdekatan dengan prediksi masuknya kembali sebuah satelit Starlink ke atmosfer Bumi.

Berdasarkan pemantauan The Aerospace Corporation melalui Center for Orbital and Reentry Debris Studies atau CORDS, objek antariksa STARLINK-31811 dengan nomor katalog NORAD 60051 sedang berada dalam periode prediksi re-entry.

The Aerospace Corporation mencatat waktu prediksi re-entry STARLINK-31811 pada 11 September 2026 pukul 15.18.43 UTC, atau sekitar 23.18 WITA, dengan tingkat ketidakpastian mencapai ±15 jam.

Dengan rentang ketidakpastian tersebut, periode kemungkinan masuknya satelit ke atmosfer masih mencakup waktu dini hari 12 September 2026 ketika fenomena cahaya dilaporkan terlihat di kawasan Sulawesi bagian utara.

STARLINK-31811 merupakan satelit komunikasi milik konstelasi Starlink. Satelit tersebut memiliki nomor internasional 2024-112P dan diluncurkan dari Vandenberg Space Force Base, Amerika Serikat, pada 8 Juni 2024 dalam misi Starlink Group 8-8.

Meski waktunya berdekatan, fenomena di langit Sulawesi Utara dan Gorontalo belum dapat dipastikan sebagai proses re-entry STARLINK-31811.

The Aerospace Corporation menjelaskan bahwa titik masuk kembali sebuah objek antariksa mempunyai ketidakpastian dan kemungkinan lokasi dapat berada di sepanjang lintasan atau ground track yang dihitung. Karena itu, kesamaan waktu saja belum cukup untuk menentukan identitas benda yang terlihat.

Selain serpihan atau satelit yang masuk atmosfer, kemungkinan lain dari fenomena tersebut adalah meteor atau bola api (fire ball).

Secara visual, proses re-entry benda buatan manusia biasanya terlihat bergerak relatif lebih lambat dan dapat pecah menjadi sejumlah titik bercahaya yang bergerak dalam arah hampir sama.

Sementara meteor umumnya melintas jauh lebih cepat, muncul selama beberapa detik, kemudian menghilang.

Karena itu, rekaman video asli dari beberapa lokasi berbeda akan sangat penting untuk mengetahui arah pergerakan, durasi, ketinggian semu, serta pola pecahan benda tersebut.

Belum Ada Konfirmasi Resmi Penyebab Fenomena

Hingga berita ini disusun pada dini hari Sabtu, belum ditemukan keterangan resmi yang secara spesifik mengonfirmasi penyebab fenomena cahaya yang terlihat dari Sulawesi Utara dan Gorontalo tersebut.

Penelusuran terhadap informasi publik di media sosial, termasuk unggahan Facebook yang terindeks, juga belum menghasilkan sumber primer dengan lokasi, waktu perekaman, dan identitas pengunggah yang dapat diverifikasi secara memadai.

Karena itu masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor, satelit jatuh, maupun benda lainnya sebelum terdapat analisis lebih lanjut.

Data The Aerospace Corporation untuk saat ini hanya menunjukkan adanya objek Starlink yang memang sedang berada dalam jendela prediksi re-entry pada waktu yang berdekatan dengan kejadian. 

Apabila rekaman dari Manado, Minahasa, Bolaang Mongondow Raya, Gorontalo atau daerah lain mulai bermunculan, posisi dan arah lintasan dari beberapa video dapat dibandingkan untuk mempersempit kemungkinan asal benda tersebut.

Berita ini akan diperbarui apabila terdapat keterangan resmi dari lembaga terkait atau data baru mengenai fenomena tersebut.