Presepsi.Com, Sejarah bangsa ini dirajut oleh darah dan ideologi muda. Dari ikrar Sumpah Pemuda 1928, keberanian mendesak proklamasi di Rengasdengklok 1945, hingga gelombang besar Reformasi 1998, pemuda selalu hadir sebagai mesin penggerak perubahan.


Mereka adalah benteng moral yang menolak tunduk pada kesewenang-wenangan. Namun, di tengah gempuran isu sosial-politik yang kian krusial hari ini, kita justru menyaksikan pemandangan yang menggelisahkan: gerakan pemuda yang meredup, jinak, dan perlahan bungkam.

Ke mana perginya nalar kritis yang dulu membakar podium-podium kampus dan jalanan?

Jawabannya mungkin terselip dalam pergeseran gaya hidup dan peradaban digital. Aktivisme hari ini mengalami penurunan makna menjadi sekadar slacktivism atau fenomena di mana protes sosial cukup diwakili oleh tagar, unggahan story, atau gambar estetis di media sosial. Perasaan telah "berjuang" hanya dengan satu jempol menyebarkan ilusi semu, padahal konsolidasi riil di akar rumput hampir tak tersentuh.

Di sisi lain, tidak sedikit wadah kepemudaan yang terkooptasi oleh lingkaran kekuasaan. Pragmatisme politik meluluhkan idealisme. Tawaran posisi strategis, dana hibah, dan janji karir sering kali berhasil menumpulkan taji perlawanan. Sementara bagi mayoritas lainnya, tekanan ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, serta ketatnya persaingan kerja memaksa mereka fokus pada kelangsungan hidup pribadi. Isu kemasyarakatan pun terlempar ke prioritas paling buncit.

Dampak dari apatisme ini jelas berbahaya. Tanpa kontrol sosial dari pemuda, kebijakan publik yang merugikan rakyat dapat melenggang mulus tanpa koreksi berarti. Lebih jauh lagi, kita sedang mempertaruhkan krisis kepemimpinan di masa depan yg nantinya hanya akan melahirkan generasi pemimpin yang tak peka pada ketimpangan.

Sudah saatnya gerakan pemuda melakukan reorientasi. Mengingat sejarah bukan untuk meramalkan masa lalu, melainkan untuk menagih tanggung jawab hari ini. Pemuda tak boleh nyaman berada di posisi penonton saat masa depan mereka sendiri sedang dipertaruhkan. Dialektika harus dihidupkan kembali, dan keberanian moral harus kembali dijadikan standar utama. Sebab ketika pemuda memilih diam, sejarah bangsa ini sedang bergerak mundur.